Senin, 02 November 2009
Membesarkan Anak Yang Kreatif
Para orang tua yang suka mengajari berbagai hal kepada anak-anak mereka, cenderung mempunyai anak-anak yang kurang kreatif, demikian ia menjelaskan. Dan yang perlu digarisbawahi ialah kadang mereka terlalu berlebihan mencoba untuk terlibat dalam proses kreativitas si anak. Biarkan kreativitas mereka berkembang Grubb menjelaskan bahwa dalam satu tes mereka memberikan beberapa pertanyaan sederhana, seperti "bagaimana anda dapat menggunakan sepotong kertas?". Semakin banyak ataupun semakin 'asing' jawaban yang diberikan, maka mereka dianggap semakin kreatif.
Tidak mengherankan, orang tua yang lebih kreatif tampaknya mempunyai anak-anak yang lebih kreatif. Namun Grubb mengatakan bahwa mereka masih tidak jelas apakah hal ini terjadi karena faktor genetik atau cara mereka mendidik. Dengan memusatkan perhatian pada cara orang tua mendidik, para peneliti merekam interaksi antara orang tua dan anak mereka saat sedang bermain. Mereka membuat asumsi bahwa orangtua dengan cara mendidik yang paling mendukung dan 'memungkinkan', akan mempunyai anak-anak yang paling kreatif. " 'Memungkinkan' berarti bersikap sangat fokus pada anak, bertanya kepada si anak tentang apa yang ingin ia lakukan, mengapa begini atau begitu serta hal-hal lain yang seperti itu," Grubb menjelaskan.
Tetapi asumsi yang mereka buat ternyata keliru. Gaya mendidik yang 'memungkinkan' bukan hanya tidak ada kaitannya dengan tingkat kreativitas tertentu dari anak, akan tetapi justru - meskipun tidak besar - cenderung menyebabkan berkurangnya kreativitas. "Malah gaya 'memungkinkan' ini dapat dengan mudah berkembang menjadi apa yang disebut sebagai sikap 'memaksa', yang membuat orang tua sering berkata: "Jangan begitu, lakukan seperti ini", dan tidak memberikan banyak pilihan kepada anaknya," kata Grubb.
Pesan yang dapat diambil, menurut Grubb, adalah bahwa kalau orangtua menghargai kreativitas si anak dan memberikan dukungan tanpa terlalu mengarahkan dan kalau mereka sendiri memang kreatif, maka mereka mungkin akan mempunyai anak-anak yang lebih kreatif.
Bagaimana hal ini dapat diterapkan ke dalam ruang bermain anak ?
Pertama-tama, hindari alat-alat permainan yang memaksakan konsep struktur atau membatasi kreativitas si anak. Berikan kepada mereka kertas putih polos, bukan buku mewarnai (dengan gambar-gambar yang telah ditetapkan sebelumnya) dan biarkan mereka menemukan sendiri kemana mereka ingin pergi.
Pilih alat-alat permainan yang bentuknya lebih mudah diubah-ubah (seperti lilin mainan), ketimbang balok-balok yang saling disambung dan hanya dapat membentuk bangunan persegi yang terbatas. Namun yang paling penting, selalu berikan pujian atas usaha yang telah mereka lakukan. Mereka mungkin saja menggambar sesuatu yang konyol atau tidak masuk akal, namun tetap berikan pujian karena mereka telah mencoba membuat sesuatu yang baru, demikian saran Grubb.
(sumber: satumed.com)
Minggu, 01 November 2009
24 JAM
Memaknai 24 jam saja kadang manusia berlomba-lomba untuk mengoptimalkan apa yang harus dilakukan. Ratusan bahkan ada yang ribuan rencana atau kegiatan ingin sekali dilakukan dalam waktu 24 jam. Tapi apakah mungkin? Bagaimana itu terlaksana? Tujuan dari berbagai kegiatan dalam 24 jam pada umumnya adalah agar setiap detik yang dilakukan adalah bermanfaat, bermakna, berkesan dan membawa kebahagiaan. Itu saja tujuan inti dari 24 jam yang terlewati yang ada dalam pikiran manusia.
Keseimbangan bagi seorang manusia sungguh sangat penting untuk dapat terus bertahan hidup ditengah perbedaan yang kompleks. Dalam waktu 24 jam, kita selalu diiringi oleh rasa kehilangan, memiliki, kekaguman dan kebencian. Untunglah kita sebagai manusia punya alat khusus untuk mencerna berbagai perasaan itu, alat itu disebut “Otak”.
Aspek-aspek yang terkait dalam 24 jam itu luar biasa besar dan selalu membawa resiko, tidak ada satupun yang tanpa resiko, sehingga memerlukan kepiawaian khusus serta pemikiran khusus untuk mencapai 24 jam secara maksimal dan efektif. Beberapa hal yang harus kita pegang untuk melewati 24 jam secara efektif antara lain :
- Spiritual activity
Ibadah merupakan aspek penting yang harus mendominasi 24 jam kita, karena bila kita menghabiskan 4 jam untuk beribadah, masih tersisa 20 jam untuk aspek lain.
- Material Activity
Bekerja, investasi dan berkarya, merupakan hal yang wajib demi berlangsungnya kolaborasi manfaat antara manusia didunia. Hal ini menyita waktu 8 Jam sehingga masih tersisa 12 Jam
- Emotional activity
Keluarga, istirahat, belajar, hiburan, makan dan minum menyita waktu 10 Jam. Sehingga tersisa 2 Jam
- Social activity
Tetangga, acara lain-lain menyita waktu 2 jam.
Habislah waktu yang tersedia, apalagi yang harus dilakukan karena hanya itu yang biasa dilakukan secara basic konseptual dan selebihnya dari itu apabila ada yang mengambil salah satu waktu agar bertambah diaspek lain itu sah-sah saja tapi apa aspek lain tidak dirugikan?
Mau tidak mau kita hanya punya 24 jam, sempat tidak sempat kita hanya punya 24 jam, maka “manage” lah itu sebaik-baiknya jangan sampai ada aspek yang dikorbankan karena dampak yang diakibatkan dari salah satu aspek diatas adalah berkaitan, sehingga berhati-hatilah.

